Budidaya Jamur Tiram (Pleurotus ostreatus)- Komposisi Medium

April 8, 2008 at 8:02 pm | In celoteh | 16 Comments

Komposisi medium jamur tiram dapat dikategorikan menjadi 4 jenis, yaitu:

- Medium Potato Dextrose Agar untuk bibit F0

Medium Potato Dextrose Agar (PDA) merupakan medium umum yang dipergunakan untuk memelihara kultur murni Jamur Tiram (bibit F0).

Bahan untuk membuat medium PDA antara lain:

  • 200 gr Kentang
  • 20 gr Dekstrosa
  • 20 gr Agar
  • 600 mL akuades

Cara membuat:

200 gr kentang dikupas, dicuci, dipotong dadu dengan ukuran 1×1x1cm, kemudian dimasukkan ke dalam gelas piala yang berisi 500 mL akuades. Setelah kentang lunak (tetapi tidak hancur), saring air rebusan dengan kain kasa bersih. Ekstrak kentang ini selanjutnya dimasukkan ke dalam gelas piala lain, tambahkan 20 gr dekstrosa, 20 gr agar, dah ditambah akuades hingga volume total 500 mL. Aduk hingga homogen dan mendidih. Masukkan medium PDA kedalam labu Erlenmeyer, lalu sterilisasi dengan menggunakan autoklaf pada tekanan 121psi selama 15 menit. Medium PDA yang telah steril dituangkan ke dalam cawan petri ( yang tentunya telah disterilkan sebelumnya) sebanyak 10-15mL. Biarkan medium hingga membeku, selanjutnya miselium jamur tiram siap diinokulasikan .

- Log botol selai untuk bibit F1

Log botol selai digunakan untuk adaptasi awal miselium jamur tiram dari kultur murni yang ditumbuhkan pada medium PDA (Potato Dextrose Agar) ke kultur produksi dengan menggunakan medium serbuk kayu. Adapun komposisi medium log botol selain antara lain Serbuk kayu: Jagung Pecah:Beras Merah:Gula Putih:NPK: (100:100:25:4:1). Semua bahan kemudian dicampur di dalam panci, ditambahkan air secukupnya, dan dimasak seperti menanak nasi. Setelah dingin, media pertumbuhan jamur dimasukkan ke dalam botol selai hingga 3/5 volume botol, ditutup dengan plastik tahan panas, dan disterilisasi dengan menggunakan autoklaf pada tekanan 121psi selama 15 menit. Log botol selai yang telah steril diinokulasi dengan menggunakan miselium jamur tiram yang ditumbuhkan pada medium PDA.

- Log Tebar untuk bibit F2

Log terbar memiliki bobot 0.5 kg, digunakan untuk adaptasi miselium jamur tiram pada skala produksi yang lebih besar, dan medium yang relatif sederhana. Komposisi medium log 0.5 kg antara lain Serbuk Kayu: Dedak:Jagung:Kapur Dolomit:NPK (100:10:5:2.5:1). Semua bahan dicampur di dalam wadah plastik kemudian ditambahkan air secukupnya. Penggunaan volume air tidak dapat ditentukan secara pasti karena menyesuaikan dengan tingkat kelembaban serbuk kayu yang digunakan. Kelembaban medium dianggap cukup ketika serbuk kayu bersifat kompak (ketika dikepal tidak terurai) dan ketika diperas tidak mengeluarkan air. Sebanyak 0.5 kg medium kemudian dimasukkan ke dalam plastik tahan panas ukuran 1 kg, diberi ring pvc diameter 1″ sepanjang 3 cm, ditutup dengan kapuk, dan disterilisasi pada tekanan 121psi selama 1jam. Setelah steril, medium diangin-anginkan hingga kapuk penutup kering dan tidak ada uap air pada permukaan dalam plastik log. Log 0.5 kg selanjutnya diinokulasi dengan menggunakan miselium jamur tiram yang berasal dari log botol selai.

- Log Produksi untuk bibit F3

Komposisi dan pembuatan log produksi yang memiliki bobot 2 kg tidak jauh berbeda dengan log 0.5 kg. Log inilah yang selanjutnya dipakai untuk memproduksi jamur tiram.

Research:Peningkatan Produksi Lovastatin oleh Pleurotus ostreatus

April 7, 2008 at 10:03 pm | In celoteh | 2 Comments

Peningkatan Produksi Lovastatin oleh Pleurotus ostreatus dilakukan melalui dua jalur pendekatan inheren yang diharapkan dapat diambil suatu kesimpulan umum ketika suatu saat nanti dipadukan. Pendekatan yang dimaksud adalah secara indigen dan eksogen. Pendekatan indigen atau lebih dikenal dengan istilah rekayasa genetik dilakukan dengan merubah susunan materi genetik sedangkan pendekatan eksogen dilakukan dengan melakukan optimasi faktor lingkungan seperti komposisi medium pertumbuhan.Untuk peningkatan produksi lovastatin ini saya menggunakan pendekatan secara indigen, sedangkan pendekatan secara eksogen dilakukan oleh rekan saya. Dan untuk selanjutnya di blog ini hanya akan dibahas lebih rinci mengenai upaya peningkatan produksi lovastatin dengan menggunakan rekayasa genetika.
Konsep rekayasa genetik sendiri sebenarnya sangat luas, diperlukan satu mata kuliah sendiri untuk membahas hal ini. Dengan pertimbangan masih minimnya penguasaan materi genetik Pleurotus ostreatus yang dimiliki, maka pada penelitian ini rekayasa materi genetik Pleurotus ostreatus dilakukan secara random melalui mutasi sinar gamma. Mutasi dengan menggunakan sinar gamma sendiri bersifat acak, mayoritas bersifat merugikan, dan sisanya diserahkan kepada Yang Maha Kuasa agar hasilnya tidak mengecewakan.
Rancangan awal penelitian ini sederhana saja:
- Isolasi Pleurotus ostreatus dari monospora
- Diiradiasi gamma
- Dilakukan analisis produksi Lovastatin
- Dilakukan analisis karakterisasi materi genetik

Adapun alur penelitian yang dilakukan adalah sebagai berikut:

Pembahasan lebih lengkap mengenai tahapan penelitian ini akan dilakukan pada postingan selanjutnya. (Bersambung).

Nb: Dokumentasi penelitan mengenai Peningkatan Produksi Lovastatin oleh Pleurotus ostreatus di blog ini bertujuan agar nasibnya tidak seperti penelitian terdahulu mengenai akuakultur yang file nya terhapus sehubungan dengan adanya pembaharuan dan restrukturisasi studio komputer SITH.

HAZARD ANALYSIS CRITICAL CONTROL POINT (I)

April 7, 2008 at 1:23 pm | In Tak Berkategori | Leave a Comment
Tags:

Penggunaan sistem HACCP dalam industri pengolahan makanan bukanlah suatu hal yang baru. HACCP merupakan sistem yang logis, simpel, efektif dan terstruktur dengan baik dalam proses kontrol produksi makanan. Sistem HACCP didesain untuk mengidentifikasi kemungkinan bahaya dan atau situasi kritis serta untuk menghasilkan prosedur dalam mengantisipasi dan mengatasi situasi yang mungkin terjadi.
Sistem HACCP diperkenalkan ke industri makanan sebagai implikasi dari adanya program penjelajahan ke luar angkasa pada tahun 1960an. Pada awalnya NASA menggunakan sistem HACCP untuk menjamin kualitas dan keamanan komponen kendaraan luar angkasa. Program ini dikembangkan untuk menjamin reabilitas produk yang pada akhirnya diaplikasikan pada pengembangan keamanan makanan untuk astronot.

Laboratorium Angkatan Bersenjata AS yang bekerja sama dengan NASA mengembangkan makanan yang dibutuhkan oleh para astronot selama misi eksplorasi luar angkasa berlangsung. Selanjutnya dilakukan perjanjian kontrak dengan Perusahaan Pillsbury untuk mendesain dan memproduksi makanan pertama yang digunakan di luar angkasa. Ketika para peneliti Pillsbury bergumul dengan berbagai masalah seperti bagaimana caranya agar makanan tetap kompak pada gravitasi nol, mereka juga dihadapkan pada tugas untuk menjaga dan menjamin agar makanan yang diproduksi bebas dari bakteri dan virus pathogen 100%. Terkena diare saat gravitasi nol karena mengkonsumsi makanan tidak higienis bukanlah suatu hal yang menyenangkan bagi asronot, derajat bahaya kejadian ini sama halnya jika terjadi kegagalan fungsi pada roket pendorong.

Penggunaan metode kontrol kualitas standar yang umum diaplikasikan pada industri makanan saat itu tentu saja tidak sesuai untuk tugas berat yang diemban Pillsbury. Para peneliti Pillsburry mulai melakukan evaluasi secara ekstensif. Mereka menyadari bahwa keberhasilan proyek ini akan dicapai jika mereka mengontrol penuh terhadap semua proses yang ada, mulai dari bahan mentah, lingkungan, hingga para pekerjanya. Pada tahun 1971 diperkenalkanlah sistem HACCP sebagai sistem prefentif yang menjamin keamanan produk makanan yang diproduksi. Jika sistem HACCP diimplementasikan dengan benar, maka hanya dibutuhkan pengujian produk ahir yang minim dan hanya bersifat verifikasi semata. (bersambung)

Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.